Forum Diskusi Pengembangan Aforestasi / Reforestasi CDM di Indonesia

Pada tanggal 23 juni 2010 diadakan pertemuan para pemangku kepentingan pasar karbon di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Kehutananan berkerja sama dengan International Finance Corporation (IFC) dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Acara tersebut bertempat di IPB International Convention Centre dan berlangsung dari pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. Peserta forum dialog terdiri dari konsultan, pemerintah, NGO serta pengusaha yang terlibat dalam kegiatan CDM sekor kehutanan. Tema yang diangkat pada forum ini adalah “POTENSI DAN USAHA PENGMBANGAN PROYEK CDM DI SEKTOR KEHUTANAN (A/R-CDM). Acara di  buka oleh Ketua Harian DNPI bapak Wilmar Witoelar. Pada sambutannya dijelaskan pentingnya peranan Indonesia dalam menekan laju perubahan iklim dari sektor kehutanan walaupun terdapat kendala di lapangan baik dari segi teknis maupun administrasi sehingga menyebabkan A/R CDM sektor kehutanan masih sangat sedikit di Indonesia. Jauh berbeda dengan proyek CDM dari sektor lain.

Pada akhir acara di buat kesimpulan hasil pertemuan sebagai berikut :

  1. Perlu sinkronisasi dari regulasi yang telah ada, seperti Permenhut No. 14 Tahun 2004 (tata cara aforestasi dan reforestasi dalam kerangka mekanisme pembangunan bersih) dengan Permenhut Nomor 30 Tahun 2009 (tata cara pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan – REDD)
  2. Perbaikan iklim investasi dan penggalangan dana. Kejadian seperti kebakaran hutan, pembalakan liar berpengaruh terhadap masuknya investor ke Indonesia
  3. Ketersediaan data dan peta. Hal ini terkait dengan definisi hutan yang disepakati dalam UNFCCC serta pengertian aforestasi (lahan yang belum dihutani selama 50 tahun) dan reforestasi (lahan yang belum ditanami sejak 31 Desembe 1989) dimana dalam pengajuan dokumen harus memiliki bukti data
  4. Belum ada kejelasan mengenai metodologi dalam hal perhitungan emisi sektor kehutanan sehingga perlu dibuat standar yang  nantinya akan diajukan ke UNFCCC

By Adolf Leopold Sihombing

29-06-2010

Copenhagen Accord

Beberapa poin  hasil pertemuan COP-15 pada tanggal 19 Desember 2009 yang terangkum dalam  Copenhagen Accord (terjemahan bebas)

  1. Perubahan iklim merupakan tantangan terbesar saat ini sehingga diperlukan adanya kemauan politik yang kuat dalam menangani perubahan iklim berdasarkan prinsip kekinian dengan mempertimbangkan perbedaan tanggung jawab dan kemampuan. Guna mencapai tujuan konvensi dalam stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer maka peningkatan temperatur global harus di bawah 2 (dua) derajat celcius berdasarkan asas kesamaan dan konteks pembangunan berkelanjutan.
  2. Perlu diambil tindakan dalam pengurangan emisi global guna mencapai tujuan yang dimaksud, termasuk dalam bentuk kerjasama dimana frame waktu akan lebih panjang untuk negara berkembang dikarenakan prioritas utama masih dalam bidang sosial dan ekonomi.
  3. Adaptasi terhadap efek kerusakan akibat perubahan iklim dan dampak potensial terukur merupakan tantangan yang dihadapi oleh semua negara. Oleh karena itu perlu dikembangkan kerjasama internasional guna memastikan pelaksanaan konvesi dan memberikan dukungan dalam mengurangi kerentanan dan membangun ketahanan di negara berkembang.  Disepakati bahwa negara maju perlu menyediakan sumber pembiayaan, teknologi dan pengembangan kapasitas yang memadai, terprediksi dan berkelanjutan. Continue reading

METODE AMDAL -OVERLAY-

Tehnik overlay merupakan pendekatan yang sering dan baik digunakan dalam perencanaan tata guna lahan / landscape. Teknik ini dibentuk melalui pengunaan secara secara tumpang tindih (seri) suatu peta yang masing-masing mewakili faktor penting lingkungan atau lahan. Pendekatan tehnik overlay efektif digunakan untuk seleksi dan identifikasi dari berbagai jenis dampak yang muncul. Kekurangan dari tehnik ini adalah ketidakmampuan dalam kuantifikasi serta identifikasi dampak (relasi) pada tingkat sekunder dan tersier. Perkembangan teknik overlay saat ini mengarah pada teknik komputerisasi. (Canter,1977)

Shopley dan Fuggle (1984) termasuk Mcharg (1969) berjasa dalam pengembangan peta overlay. Overlay dibentuk oleh satu set peta transparan yang masing-masing mempresentasikan distribusi spasial suatu karakteristik lingkungan (contoh : kepekaan erosi). Informasi untuk variabel acak harus dikumpulkan terlebih dahulu sebagai standar unit geografis di dalam suatu area studi, dan dicatat pada satu rangkaian peta (satu untuk masing-masing variabel). Peta ini kemudian di overlay untuk menghasilkan suatu peta gabungan (lihat gambar). Hasil peta gabungan memperlihatkan karakter fisik area, sosial, ekologis, tata guna lahan dan karakteristik lain yang relevan dan berkaitan dengan tujuan pengembangan lokasi yang diusulkan. Untuk menyelidiki derajat/tingkatan dari dampak, alternatif proyek yang lain dapat ditempatkan pada peta akhir. Continue reading

METODA PREDIKSI KOMPONEN KUALITAS UDARA

Pencemaran udara dapat didefinisikan sebagai keberadaan satu atau lebih polutan (bahan pencemar) di atmosfir yang karena kuantitas maupun durasi keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap manusia, tanaman, hewan dan material serta kenyamanan.

Sumber pencemar udara dapat dikategoikan kedalam beberapa kelompok meliputi jenis sumber, frekuensi terjadinya dan distribusi spasial, dan jenis dari emisi. Karakterisasi sumber yang berkaitan dengan jumlah dan distribusi spasial dapat dibedakan atas sumber titik dan sumber area.

Prediksi dampak adalah kajian lebih spesifik apabila dibandingkan dengan identiikasi dampak, karena pada prediksi dampak penyusun AMDAL harus dapat menunjukkan dampak yang muncul dengan lebih jelas. Hal ini akan menjadi lebih baik apabila dampak yang muncul dapat dikuantifisir. Tidak semua dampak yang muncul dapat di kuantifisir, tetapi untuk komponen fisik-kimia biasanya tidak terlalu sulit untuk di kuantifisir.

Pada prediksi dampak komponen udara terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar penyusun dapat memberikan kajian yang jelas, hal itu antara lain: Continue reading

Pengolahan Limbah Radioaktif dengan SOLIDIFIKASI

Solidifikasi merupakan teknik pengolahan dengan menggunakan pencampuran antara limbah dengan agen solidifikasi. Keuntungan dari metode solidifikasi adalah mencegah disperse partikel kasar dan cairan selama penanganan, meminimalkan keluarnya radionuklida dan bahan berbahya setelah pembuangan serta mengurangi paparan potensial (pemecahan jangka panjang). Beberapa properti yang harus diperhatikan dalam solidifikasi antara lain: kemampuan leaching, stabilitas kimia, uji kuat tekan, ketahanan radiasi, biodegradasi, stabilitas termal dan kelarutan (Brownstein, xxxx). Beberapa bahan yang digunakan sebagai agen dalam solidifikasi yaitu semen, kaca, termoplastik dan thermosetting.

Mekanisme solidifikasi dengan menggunakan semen. Selama absorbsi air, senyawa mineral terhidrasi membentuk substansi dispersi koloid yang disebut “sol”. Sol tersebut kemudian di koagulasi dan di presipitasi (pengkondisian akhir). Gel yang terbentuk kemudian dikristalisasi. Tabel 4 berikut ini akan menggambarkan keuntungan dan kerugian teknik solidifikasi menggunakan semen. Continue reading

Pengolahan Limbah Radioaktif dengan ULTRAFILTRATION

Membran Ultrafiltration memiliki ukuran pori yang lebih besar dibandingkan dengan Reverse Osmosis. Koloid, padatan terlarut, molekul organik dengan berat molekul yang tinggi tidak dapat melalui ultrafiltration. Teknologi ini beroperasi pada tekanan 0,2-1,4 Mpa. Hal ini dimungkinkan karena tekanan osmotik koloid dan molekul organik berada dalam jumlah yang sedikit. Ukuran pori ultrafiltration berada pada range 0,001-0,01 mm. Unit ultrafiltration beroperasi dengan prinsip cross-flow. Ultrafiltration sering digunakan untuk menyingkirkan aktivitas alfa dari uap limbah. Limbah aktinida dalam bentuk koloid atau pseudo-colloidal pada uap limbah radioaktif dapat disingkirkan secara efektif oleh ultrafiltration dan dapat digunakan untuk menyingkirkan ion logam terlarut dari larutan dilute aqueous apabila sebelumnya ion tersebut mendapat perlakukan awal untuk pembentukkan partikel padatan (IAEA, 2004)

Pengolahan Limbah Radioaktif dengan REVERSE OSMOSIS

Reverse osmosis (RO) merupakan suatu proses pemaksaan sebuah solvent dari sebuah daerah berkonsentrasi “solute” tinggi melalui sebuah membran ke sebuah daerah “solute” rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi tekanan osmotik.

Reverse Osmosis mengaplikasikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmotik (antara 2-10 Mpa) ke dalam  larutan konsentrat sehingga menyebabkan larutan mengalir dari sisi konsentrat membran semipermeabel ke dilute side. RO memiliki kemampuan menyingkirkan total dissolved inorganic solid 95-99,5% dan dissolved organic solid 95-97%. Teknologi tersebut telah digunakan untuk menyingkirkan radionuklida dari limbah cair level rendah seperti limbah uap dari pembangkit tenaga nuklir. RO dapat menyingkirkan hampir semua kontaminan sehingga produk air yang dihasilkan dapat dipakai kembali dalam pembangkit tenaga. Air yang telah dimurnikan tersebut memiliki tingkat aktivitas yang rendah sehingga dimungkinkan untuk dibuang ke lingkungan  (IAEA, 2004).

Referensi :

IAEA, (2004), Aplication of Membrane Technologies for Liquid Radioactive Waste Processing, Technical Report Series No. 431, International Atomic Energy Agency